<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Joomla! powered Site</title>
		<description>Joomla! site syndication</description>
		<link>http://sman5bengkulu.net</link>
		<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 08:44:44 +0100</lastBuildDate>
		<generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
		<image>
			<url>http://sman5bengkulu.net/images/M_images/joomla_rss.png</url>
			<title>Powered by Joomla!</title>
			<link>http://sman5bengkulu.net</link>
			<description>Joomla! site syndication</description>
		</image>
		<item>
			<title>PSB ONLINE</title>
			<link>http://sman5bengkulu.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=41</link>
			<description>Tahun Ajaran 2009/2010 SMA 5 Kota Bengkulu Tidak Menerima siswa secara online, kerena seluruh kelas sudah menggunakan Program RSBI. Oleh sebab itu kepada masyarakat kota bengkulu kami mohon maaf karena tidak bisa menerima siswa secara online.</description>
			<category>News - Latest</category>
			<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 10:34:51 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Bunga Rafflesia </title>
			<link>http://sman5bengkulu.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=9</link>
			<description>         Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Edi Nevian di Bengkulu, Jumat, menjelaskan bunga langka Rafflesia Arnoldi menjadi modal dalam promosi wisata Provinsi Bengkulu terutama ke manca negara.                           Kita punya banyak obyek wisata dengan kekhasan tersendiri, tapi untuk promosi ke dunia internasional, kita menjadikan bunga Rafflesia Arnoldi sebagai ikon-nya,  katanya.                          Dalam setiap kali pembicaraan dengan turis dari manca negara yang datang ke daerah itu, rata-rata mereka ingin melihat secara langsung flora langka yang pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jenderal Thomas Raffles dan dokter pribadinya, Arnoldi itu.                                      Bunga Raflesia                                 Begitupun para tamu resmi dari baik nasional maupun luar negeri ketika berkunjung ke Bengkulu ingin melihat Rafflesia Arnoldi, selain mengunjungi tempat wisata lainnya.                      Ia mencotohkan, Miss Universe 2007 Riyo Mori dan Puteri Indonesia 2007 Puteri Raemawasti yang berkunjung ke Bengkulu pada 8 Agustus 2007 juga sangat tertarik dengan bunga Rafflesia Arnoldi.                  Kemudian Dubes Singapura untuk Indonesia Ashok Mirpuri yang datang ke provinsi itu pada 5 Juni 2008, juga melihat bunga langka tersebut.                   Sangat beruntung ketika para tamu kehormatan itu datang, ada Rafflesia Arnoldi yang mekar, sehingga keinginannya tercapai bisa melihat langsung bunga raksasa itu,  katanya.                  Rafflesia Arnoldi, bunga khas dan menjadi kebanggaan Provinsi Bengkulu, sering ditemukan mekar di kawasan Cagar Alam Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Utara, berjarak 44 Km dari Kota Bengkulu.            Pada umumnya bunga mekar yang memiliki diameter sekitar 70 Cm itu hanya berjarak 10 meter dari pnggir jalan raya Kota Bengkulu-Kepahiang.                            Di kawasan Cagar Alam Taba Penanjung hampir setiap tahun selalu muncul bunga Rafflesia, bahkan hampir tiga bulan sekali bunga tersebut mekar.                            Selain ukurannya yang cukup besar, Rafflesia Arnoldi memiliki keunikan selain disekeliling bunganya berwarna merah dan dihiasi bintik-bintik putih, jumlah kelopaknya hanya lima. Biasanya, Rafflesia yang mekar bisa bertahan hingga 20 hari.                             Mengenai kegiatan promosi wisatawan, menurut Edi, akan dilakukan mulai November 2008, atau setelah pembangunan kawasan wisata Internasional di Pantai Panjang rampung yang merupakan salah satu obyek wisata andalan.                            Di Provinsi Bengkulu saat ini terdapat 80 obyek wisata yang teridentifikasi dan memiliki kekhasan. Dari jumlah itu sebanyak 14 di antaranya merupakan pantai, delapan tirta (air), 22 tempat bersejarah dan 36 panorama alam </description>
			<category>News - Latest</category>
			<pubDate>Wed, 07 Jul 2004 11:54:06 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Rumah Kediaman Bung Karno</title>
			<link>http://sman5bengkulu.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=11</link>
			<description>Sejarah perjuangan Bung Karno dalam memerdekakan Indonesia dari penjajahan Belanda tidak dapat dilepaskan dari pengasingan-pengasingan yang pernah dialaminya. Salah satu tempat pengasingan Soekrano berada di Propinsi Bengkulu. Selama pengasingannya di Bengkulu, Bung Karno ditempatkan di sebuah rumah yang awalnya adalah tempat tinggal orang Cina yang bernama Tan Eng Cian. Tan Eng Cian adalah pengusaha yang menyuplai bahan pokok untuk kebutuhan pemerintahan kolonial Belanda. Soekarno menempati rumah tersebut dari tahun 1938 hingga tahun 1942. Rumah ini berjarak sekitar 1,6 km dari Benteng Malrborough. Rumah yang berada pada koordinat 0,3o 47l 85,1ll Lintang Selatan dan 102o15l 41,7ll  Bujur Timur ini berada di ketinggian 64 m di atas permukaan laut.          Rumah yang dibangun pada awal abad ke-20 ini berbentuk empat persegi panjang. Bangunan ini tidak berkaki dan dindingnya polos. Pintu masuk utama berdaun ganda, dengan bentuk persegi panjang. Bentuk jendela persegi panjang dan berdaun ganda. Pada ventilasi terdapat kisi-kisi berhias. Rumah dengan halaman yang cukup luas ini memiliki atap berbentuk limas. Luas bangunan rumah ini adalah 162 m2, dengan ukuran 9 x 18 m.           Dulu   luas keseluruhan   rumah ini mencapai 4   hektar. Selain rumah utama, ada beberapa bangunan lain. Dengan berjalannya   waktu, oleh Pemerintah   Propinsi Bengkulu lahan yang ada kemudian dibagi-bagi   untuk rumah penduduk dan sebagian untuk gedung instansi pemerintah daerah   setempat.          Di dalam rumah pengasingan ini tersimpan benda-benda peninggalan Bung Karno yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda tersebut merupakan saksi bisu yang menemani sang Proklamator dalam menyusun strategi-strategi perjuangan selama di pengasingan. Meskipun rumah ini tidak terbilang besar, namun pembagian ruang dan penataan benda-benda   berharga tersebut cukup   rapi dan teratur.          Di   teras, selain meja dan kursi, ada dua lemari kecil, satu untuk menyimpan   berbagai jenis suvenir dan satu lagi menjadi tempat   menyimpan makanan khas Bengkulu dan berbagai jenis kue lainnya. Bergeser sedikit   ke dalam rumah, pengunjung dapat   menjumpai sepasang kursi   tua. Di sisi kanan terdapat tiga buah kamar dan di sisi   kiri terdapat dua kamar tidur.   Di dalam kamar tidur terdapat ranjang besi yang merupakan tempat   tidur Bung Karno saat ia menghuni rumah ini. Di dalam satu dari tiga kamar lainnya, yang                     Di kamar paling tengah ditempatkan sebuah lemari gandeng berukuran 2 x 1,5 meter, tempat buku koleksi Bung Karno dipajang. Sebuah lemari pakaian menyimpan pakaian serta beberapa benda bekas pemain sandiwara ketika itu, seperti kebaya dan payung tua terbuat dari kertas. Semuanya telah tampak usang dan pudar warnanya.            Kamar terakhir, pada bagian belakang, tampak kosong, tapi pada setiap bagian dinding terpajang bingkai-bingkai foto berukuran besar; tampak foto-foto Bung Karno beserta Ibu Inggit dan keluarga serta kerabatnya yang lain, termasuk foto Fatmawati yang ketika itu baru beranjak dewasa.            Pada bagian belakang rumah terdapat beranda dengan sepasang kursi santai. Pada bagian kanan terdapat bangunan memanjang ke belakang, terdiri atas lima petak, di antaranya merupakan kamar kecil atau kamar mandi, sedangkan yang lainnya berfungsi sebagai gudang   dan dapur.                Namun, koleksi peninggalan yang sebenarnya paling berharga di dalam rumah ini adalah buku-buku Bung Karno yang jumlahnya mencapai ratusan buah. Deretan buku-buku tebal tersebut meliputi   pelbagai jenis, seperti karya sastra klasik, ensiklopedia, data kepemimpinan Jong Java, hingga Alkitab Pemuda Katolik. Sayang sekali,   buku-buku yang sebagian besar berbahasa Belanda itu sudah dalam keadaan   rapuh dan hancur termakan usia. Jika diprosentasikan, sekitar 60 persen dari semua buku yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno ini rusak parah. Sampul buku sebagian besar berlubang atau hancur. Warna buku pun sudah memudar dan rapuh. Tidak ada alat pengatur suhu atau sarana penjaga keawetan buku, seperti layaknya sebuah museum.         Selain buku   koleksi Bung Karno, puluhan seragam kelompok Tonil Monte Carlo juga disimpan di   rumah ini. Sungguh   disayangkan, di dalam lemari   penyimpanan ini juga tidak   dilengkapi dengan pengatur suhu   dan cahaya untuk mencegah kerusakan akibat pelapukan dan pelbagai faktor lain.        Letaknya yang masih berada di pusat Kota Bengkulu, membuat Rumah Pengasingan Bung Karno mudah untuk diakses. Dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, pengunjung dapat menggunakan taksi, bus, atau mobil sewaan untuk sampai di lokasi obyek wisata ini. Sedangkan jika pengunjung berangkat dari arah Terminal Bus Bengkulu, pengunjung dapat menggunakan bus kota jurusan Jalan Soekrano-Hatta, turun di Kelurahan Anggut Atas, kecamatan Gading Cempaka, Kota   Bengkulu.        Di sekitar Rumah   Pengasingan Bung Karno terdapat sarana akomodasi dan fasilitas yang cukup   lengkap, seperti hotel/rumah   penginapan,   rumah makan, shopping   center (pusat perbelanjaan), mini   market, kios cendramata, kios voucher handphone, sarana ibadah (masjid   dan gereja), warung   telekomunikasi, juga warung   internet, dan lain-lain.                                         terletak di bagian depan, terpajang duplikat sepeda tua, kendaraan yang biasa dipakai Bung Karno untuk bepergian ketika itu.        </description>
			<category>FAQs - Examples</category>
			<pubDate>Wed, 12 May 2004 11:54:06 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Tugu Thomas Parr</title>
			<link>http://sman5bengkulu.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=10</link>
			<description>Monumen Thomas Parr merupakan salah satu obyek wisata sejarah di Propinsi Bengkulu. Letaknya berdekatan dengan Benteng Marlborough, hanya berjarak sekitar 170 m di sebelah tenggara.  Monumen berbentuk tugu dengan luas 70 meter persegi dan tinggi 13,5 meter ini dibangun oleh pemerintah Inggris pada tahun 1808 untuk memperingati Residen Thomas Parr yang tewas dibunuh oleh rakyat Bengkulu. Thomas Parr (1805&amp;mdash;1807) adalah penguasa Inggris ke empat puluh sembilan yang terkenal sangat keji dan kejam. Dia diangkat oleh pemerintah Inggris untuk menggantikan Deputy Governor Walter Ewer (1800&amp;mdash;1805). Semasa memerintah, Thomas Parr menerapkan sistem tanam paksa untuk membuka perkebunan kopi di Bengkulu. Sudah tidak dapat dihitung lagi berapa banyak korban jiwa yang melayang selama masa tanam paksa tersebut. Sampai suatu ketika, kebencian rakyat Bengkulu sudah tidak dapat dibendung lagi. Pada sebuah malam, tepatnya pada tanggal 23 Desember 1807, rakyat Bengkulu beramai-ramai menyerbu Mount Felix, rumah peristirahatan Thomas Parr (sekarang Rumah Dinas Gubernur atau Gedung Daerah), tentu dengan maksud ingin menghabisi sang Residen. Pada malam yang naas itu, sang Residen yang lalim tersebut akhirnya terbunuh dengan cara yang mengenaskan. Kepalanya dipenggal dan diarak keliling kota oleh rakyat Bengkulu.Atas peristiwa tersebut, Pemerintah Inggris tidak ambil diam. Sebagai pembalasan, tentara Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun dan membunuh setiap penduduk yang dijumpainya. Bukan hanya itu, hewan ternak pun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendaliKeistimewaan Monumen Thomas Parr dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek fisik bangunannya dan aspek sejarahnya. Dilihat dari aspek fisiknya, keistimewaan Monumen Thomas Parr dapat dilihat dari keunikan arsitekturnya. Monumen berbentuk tugu ini berdenah segi 8 dan mempunyai tiang-tiang bergaya corinthian (berbentuk bulat seperti balok kayu yang mengandung makna agar bangunan terlihat kokoh dan berwibawa). Pintu masuknya terdapat di bagian depan dan sisi kanan dan kiri, berbentuk lengkung sempurna dan tidak mempunyai daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam tugu terdapat sebuah prasasti, tapi pada saat ini sudah tidak dapat dibaca lagi karena sudah rusak. Bagian atas tugu mempunyai atap yang berbentuk kubahAdapun nilai sejarah yang melekat pada monumen ini adalah mengingatkan masyarakat Indonesia pada besarnya kontribusi rakyat Bengkulu dalam mengusir penjajah Inggris dari Nusantara. Monumen yang oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek ini merupakan simbol perjuangan dan persatuan dalam mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris. Monumen Thomas Parr terletak di Jalan Ahmad Yani, Kota Bengkulu, Propinsi Bengkulu, Indonesia.Letaknya yang tepat di jantung Kota Bengkulu, membuat Monumen Thomas Parr tidak sulit untuk diakses. Dari Bandar Udara Fatmawati Bengkulu, pengunjung dapat menggunakan taksi atau mobil sewaan untuk sampai di lokasi obyek wisata ini dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Jika pengunjung menggunakan jalur darat, Monumen Thomas Parr juga mudah untuk diakses, terutama dari arah Terminal Bus Bengkulu. Dari Terminal Bus Bengkulu, pengunjung dapat menggunakan bus kota jurusan alun-alun Kota Bengkulu dan turun tepat di depan Monumen Thomas ParrLetak Monumen Thomas Parr  yang berada di pusat Kota Bengkulu membuat lokasi wisata ini dikelilingi oleh sarana akomodasi dan fasilitas yang cukup lengkap. Di sekitar monumen, pengunjung dapat menjumpai sarana akomodasi dan fasilitas seperti hotel/rumah penginapan, restoran, shopping center (pusat perbelanjaan), mini market, kios cenderamata, kios voucher handphone, sarana ibadah (masjid dan gereja), warung telekomunikasi, warung internet, dan lain-lain.</description>
			<category>FAQs - Examples</category>
			<pubDate>Wed, 12 May 2004 11:54:06 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Festival Tabot</title>
			<link>http://sman5bengkulu.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=7</link>
			<description>Kegiatan tahunan Festival Tabot di Bengkulu tahun ini akan difokuskan di Lapangan Merdeka dan Tugu Kampung Cina dengan mengambil tema &amp;ldquo;Melalui Festival Tabot 2007, Kita Wujudkan Bengkulu sebagai Daerah Tujuan Wisata&amp;rdquo;.           Festival Tabot telah berlangsung selama bertahun-tahun di Bengkulu, dan sejak masa silam menjadi tradisi bagi masyarakat di sana, serta &amp;ldquo;keharusan&amp;rdquo; yang tak boleh ditinggalkan untuk dilaksanakan para keturunan Tabot setiap 1-10 Muharram tahun Hijriah.           Festival Tabot semula adalah tradisi ritual di Bengkulu, namun kini telah berkembang menjadi suatu kebutuhan masyarakat luas, atau sebagai cultural manners seperti berbagai tradisi yang telah lama berlangsung di seluruh penjuru Nusantara.           </description>
			<category>News - Latest</category>
			<pubDate>Wed, 07 Jul 2004 11:54:06 +0100</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>
